Oleh: Swary Utami Dewi

Tulisan ini merupakan hasil paparan dan diskusi komunitas Caknurian yang rutin melakukan diskusi online via zoom di masa Covid19, tiap selasa malam. Pada Selasa malam, 5 Mei 2020, temanya adalah “kepungan big data”. Pemantik diskusi kali ini adalah Jerry S. Justianto, seorang pakar IT/digital. Bang Jerry, panggilan akrabnya, berbicara mengenai jeratan “Rabbit Hole” ala film “Alice In the Wonderland”.

Dalam era digital ini, menurut Bang Jerry, yang juga seorang dosen, disadari ataupun tidak, manusia telah menjadi pelayan dari “Big Data”. Mula-mula kita memasuki dunia yang baru, dibuat penasaran dan ingin tahu. Lalu kita mengikutinya, layaknya Alice yang tertarik mengikuti Rabbit sang kelinci dan mengikutinya, hingga kemudian masuk dalam perangkap dunia baru.

Analogi ini menggambarkan, melalui internet, kehidupan kita telah diatur dan dikuasai oleh hasil algoritma. Kebiasaan kita yang tertangkap kemudian dikendalikan dan diatur oleh algoritma. Banyak yang kemudian menjadi terbiasa dengan apa yang ditampilkan pada saat kita berselancar di dunia maya dan menganggap semua wajar. Pembiasaan ini mengakibatkan yang “tidak normal menjadi normal”, terlebih karena mereka yang ada di sekeliling kita juga merasa hal tersebut normal dan sudah pula merasa terbiasa.

Inilah bahayanya, yakni saat kita tidak lagi bisa membedakan mana yang fakta atau ilusi, mana yang tepat atau tidak, mana yang patut ditiru atau tidak. Manusiapun menjadi budak dari algoritma, menjadi terpasung dan terkepung oleh big data.

Selaras dengan hal ini, Komaruddin Hidayat, seorang akademisi ternama tanah air, memaparkan bahwa big data punya kemampuan menyedot emosi manusia. Cara yang semula lazim digunakan oleh sektor periklanan dan bisnis untuk mengetahui supply dan demand dari target pasar, kemudian merambah dan menjadi cara baru menguasai manusia melalui dunia maya.

Mas Komar, panggilan akrab Komaruddin Hidayat, kemudian menjelaskan dengan sederhana, bahwa di sini, algoritmalah yang sangat berperan dalam mengendalikan big data. Sebagai informasi, istilah algoritma sendiri berasal dari nama seorang ahli matematika (aljabar) yg lahir di Persia tahun 780, Alhawarism. Karena sulit bagi orang Barat mengucapkan nama Arab tersebut, lalu berubah sebutannya menjadi Algorism. Lidah orang Indonesia menyebutnya sebagai algoritma.

Kembali ke big data, big data yang terkumpul tadi, lalu diolah secara algoritma. Singkatnya, algoritma menyusun hubungan yang seolah-olah logis dan sistematik untuk menghasilkan rangkaian informasi. Informasi ini kemudian dipandang logis oleh yang menerimanya.

Celakanya, manusia lalu dikendalikan dan menjadi terpenjara oleh Rabbit Hole tersebut. Seolah-olah semua menjadi logis, normal dan sudah begitu adanya. Manusia menjadi terlena dan terkungkung. Perlu dipahami bahwa algoritma sesungguhnya tidak memiliki hubungan kausalitas. Yang ada hanyalah seperti hubungan “jika ayam berkokok, maka matahari terbit”. Padahal dua hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya. Matahari terbit bukan karena kokokan ayam.

Menyadari bahaya yang mungkin timbul, lalu bagaimana kita bisa mengubah situasi ini dan keluar dari kepungan Big Data tersebut? Bagaimana kita sebagai manusia yg memiliki akal dan pegangan nilai bisa membalik keadaan itu? Bagaimana manusia yang memiliki akal budi yang sejatinya memiliki kendali dan bukan dikendalikan?

Menjawab pertanyaan ini, Mas Komar mengajak kita semua untuk sesekali bisa mengambil jarak dan untuk selalu mampu bersikap kritis terhadap informasi yang dihujani kepada kita. Informasi yang masuk perlu divalidasi benar tidaknya. Jika itu benar, maka bisakah untuk diteruskan? Jika bisa, apakah memang ada manfaatnya? Inilah yang menjadi filter manusia untuk selalu bisa mengendalikan dan memilah informasi yang diterimanya.

Senada dengan Mas Komar, Bang Jerry juga mengajak kita untuk selalu mampu bersikap kritis dan mempertanyakan informasi yang kita terima tadi. Cara lain yang juga perlu dilakukan, imbuh Bang Jerry, adalah untuk memilah infornasi yang asalnya bisa diverifikasi. Misalnya untuk berita, bisa dipilih yang asalnya dari media yang selama ini memang kredibel.

Sebagai kesimpulan, dalam menghadapi serbuan informasi, kita tetap harus bisa bersikap kritis. Kitalah sebagai manusia yang justru harus punya daya kendali terhadap big data ini, dan bukan sebaliknya.

5 Mei 2020
#SwaryUtamiDewi

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *