REVITALISASI TIM : ANTARA IMAJINASI DAN KEADILAN SOSIAL

Catatan Akhir Tahun

Oleh : Himawan Sutanto – Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan revitalisasi dan menjadikan kawasan Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional. Dimana nantinya yang hadir di TIM itu adalah pelaku-pelaku kebudayaan dari seluruh dunia.

Artinya, dengan pembangunan hotel dan wisma, para seniman dari berbagai belahan dunia tak perlu repot mencari penginapan bila berkunjung ke Jakarta. Para pelaku seniman dunia itu datang ke Jakarta tidak tinggal di luar komplek TIM, tapi bisa di dalam. Selama 24 jam di dalam Taman Ismail Marzuki.

Akan tetapi pembangunan wisma berbintang lima dalam proyek revitalisasi TIM mendapat penolakan dari sejumlah pihak, termasuk DPRD DKI Jakarta. Lebih lanjut DPRD DKI pun memangkas usulan dana Penyertaan Modal Daerah (PMD) dalam Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020 untuk revitalisasi TIM yang awalnya sebesar Rp600 miliar menjadi hanya Rp200 miliar.

Pemotongan dana sebesar Rp 400 miliar ini menyebabkan PMD yang diterima oleh Jakpro untuk 2020 mendatang hanya sebesar Rp2,7 triliun dari usulan awal Rp3,1 triliun.

Sejarah Taman Ismail Marzuki

Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan yang berlokasi di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Di sini terletak Institut Kesenian Jakarta dan Planetarium Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop.

Acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini, termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, pembacaan puisi, pameran lukisan dan pertunjukan film. Berbagai jenis kesenian tradisional dan kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri juga dapat ditemukan di tempat ini.

Adapun nama pusat kesenian ini berasal dari nama pencipta lagu terkenal Indonesia, Ismail Marzuki. Sedangkan TIM diresmikan pembukaannya oleh Gubernur Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10 November 1968. TIM dibangun di atas areal tanah seluas sembilan hektare. Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum “Taman Raden Saleh” (TRS) yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pengunjung ‘TRS’ selain dapat menikmati kesejukan paru-paru kota dan melihat sejumlah hewan, juga bisa nonton balap anjing di lintasan ‘Balap Anjing’ yang kini berubah menjadi kantor dan ruang kuliah mahasiswa fakultas perfilman dan televisi IKJ.

Ada juga lapangan bermain sepatu roda berlantai semen. Fasilitas lainnya ialah dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium melengkapi suasana hiburan malam bagi warga yang suka nonton film. Tetapi sejak 37 tahun lalu suasana seperti itu tidak lagi dapat ditemukan. Khususnya setelah Bang Ali menyulap tempat ini menjadi Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Adapun TIM yang sejak berdiri tahun 1968 lalu hingga kini telah menjadi ruang ekspresi seniman yang menyajikan karya-karya inovatif. Pertunjukkan eksperimen, suatu dunia atau karya seni yang sarat dengan dunia ide dan gagasan nakal. Membuka pintu seluas-luasnya bagi ruang berpikir dan berkreasi menuju seni yang berkualitas. Untuk beberapa waktu lamanya harapan muncul suatu karya dalam dunia penciptaan, menjadi kenyataan. Panggung TIM menjadi marak dengan karya-karya eksperimen yang sarat ide. Ini ditandai oleh sejumlah kreator seni yang sempat membuka peta baru di atas pentas. Di antaranya Rendra, pimpinan Bengkel Teater Yogya dari kampung Ketanggungan Wetan Yogyakarta. Awalnya karya Rendra, berupa drama “Be Bop” atau drama mini kata “SSSTTT” ditayangkan dilayar kaca TVRI. Menyusul pentas drama klasik Yunani “Oedipus Rex”, “Menunggu Godot”, “Hamlet” dan karya pentas mini kata lainnya.

Koregrafer kondang, Sardono W. Kusumo, lewat pentas tari “Samgita Pancasona” menyuguhkan konsep gerak yang memiliki skala tak terbatas. Balerina terkemuka, Farida Oetojo mewarnai TIM denga karya baletnya yang berani. Slamet Abdul Syukur, yang lama bermukim di Prancis menggedor publik dengan konser piano “Sumbat” yang membuat penonton terpana. Sutradara teater Arifin C. Noer, Teguh Karya, Suyatna Anirun (Bandung), mempesona publik. Koreografer senior, Bagong Kusudiardjo, Huriah Adam, pelukis Affandi, Trisno Soemardjo, Hendra Gunawan, Agus Djaya, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Rusli, Rustamadji, Mustika mengisi TIM dengan karya-karya mereka yang indah dan artistik. Apalagi sekarang menjadi tempat “Kenduri Cinta” Emha Ainun Nadjib yanh diselenggarakan setiap bulan Purnama dan dihadiri ribuan penggemarnya.

Beda Prepsepsi

Adapun polemik itu bermula dari pembangunan wisma dalam proyek Revitalisasi Taman Ismail Marzuki. Dimana diperlukan jalan keluar yang komprehensif. Pihak-pihak yang tidak setuju bangunan yang akrab disebut hotel bintang lima tersebut, harus punya dasar argumentasi yang kuat dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Adapun PT Jakarta Propertindo selaku pelaksana proyek yang ditugaskan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah telanjur berkontrak dengan pelaksana pembangunan, yakni perusahaan konstruksi pelat merah PT Wijaya Karya (Persero). Padahal sebelumnya, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto menjelaskan kemungkinan agar Wisma TIM tidak dibangun. Karena akan memakan biaya besar untuk proporsional pondasinya akan terbuang sia-sia, sebab bangunan Wisma TIM merupakan satu kesatuan di atas bangunan lain.

Sementara luasan bangunan Wisma TIM itu sekitar 16.000 m2, tapi tapaknya di atas galeri seni dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Sedangkan Wisma TIM yang diramaikan sebagai hotel ini sebenarnya tidak banyak memakan ruang.

Dari situlah asal muasal persoalan itu muncul. Dimana pengembang merasa tak habis pikir mengapa polemik pembangunan Wisma TIM baru muncul.  Walaupun bangunan Wisma TIM yang direncanakan memiliki enam lantai tak jadi dibangun, biaya pembangunan Rp111,3 miliar tetap harus dikeluarkan.

Kecuali, semua pihak, yakni Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, DPRD DKI Jakarta, Jakpro, kontraktor, dan pihak-pihak para penolak pembangunan seperti seniman dan budayawan bertemu, kemudian duduk bersama.

Adapun polemik pembangunan Wisma TIM memang tak bisa lepas dari sentimen-sentimen politis. Hal itu disebabkan antara pihak eksekutif bersama Jakpro, dan legislatif. Seperti diketahui, proyek ini merupakan proyek penunjukan langsung kepada Jakpro sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sehingga terjadi kesan bahwa proyek ini begitu tertutup.

Disisi lain DPRD sedang mempermainkan Anies, Agar Anies Baawedan melakukan lobi-lobi dengan DPRD lagi. Hal itu dilakukan agar bargaining politiknya terhadap Anies naik. Jika itu ditolak dari seluruh anggota dewan dan seluruh fraksi DPRD, karena bisa mumcul kemungkinan sentimen politik. Hal itu pasti ada maksud, dan maksud itu yang tahu hanya para anggota DPRD.

Seperti diketahui, polemik pembangunan Wisma TIM berujung pada keputusan politik dan berkurangnya besaran anggaran penyertaan modal daerah (PMD) yang diterima Jakpro pada tahun anggaran 2020.

Sentimen lain adalah antara Jakpro dan para penolak pembangunan revitalisasi. Sentimen bahwa istilah budaya selalu dihadapkan dengan istilah korporasi dan itu terlihat cukup tajam dalam polemik ini. Untuk itu, menggunakan upaya strategis lewat kekuatan politik dari DPRD DKI Jakarta memang penting, tapi kepentingan politis juga sangat besar.

Sementara keputusan politik itu bisa berubah-berubah sesuai kepentingan. Keputusan politik penolakan anggota DPRD DKI terhadap pembangunan wisma atau hotel sangat kuat sehingga mereka tidak mau mengeksekusi kebijakan Gubernur. Itulah.yang mungkin tidak ada titik temu antara Gubernur dan DPRD.

Alasan bahwa Wisma TIM merupakan upaya komersialisasi dinilai kurang relevan. Tanpa Wisma TIM saja korporasi seperti bioskop telah ada di TIM sejak lama. Hal ini terungkap dalam rapat bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta yang membahas revitalisasi TIM terungkap dari Sekretaris Komisi B, Pandapotan Sinaga.

Menurutnya, beberapa seniman yang menolak ide agar Jakpro mengelola TIM, setelah revitalisasi rampung. Dalam rapat ini pihak Jakpro sebenarnya siap untuk melepas dan mengembalikan PMD yang telah diberikan. Disisi lain, Pandapotan merasa bahwa hal tersebut tak perlu dilakukan karena revitalisasi sudah terselenggara dan dianggarkan dalam APBD.

Imajinasi dan solusi

Kalau dilihat dari revitalisasi TIM, ternyata antara Seniman dan Pemerintahan Daerah berbeda imajinasi. Dimana seniman merasa akan dipinggirkan jika dibangunnya hotel berbintang dan TIM menjadi sebuah bangunan komersial yang ada. Para seniman yang aktif di Taman Ismail Marzuki (TIM) mengatakan tidak menginginkan revitalisasi pusat budaya dan kesenian itu dilanjutkan jika di kawasan itu nantinya ada kegiatan komersial. Sedangkan kawasan komersial yang paling ditentang keberadaannya oleh seniman adalah hotel yang akan bernama Wisma TIM, dengan standar pelayanan sekelas hotel bintang lima. Barangkali itu imajinasi seniman dan itu sah-sah saja. Karena seniman merasa terganggu, sementara konteks terganggunya dimana dan itu yang harus dijelaskan secara akademis, bukan hanya rasa saja. Karena kalau seniman pameran atau pentas di hotel bintang lima adalah hal yang biasa saja.

Sementara, Anis Baswedan sendiri mengatakan bahwa ada perbedaan imajinasi antara pihaknya dan para seniman yang keberatan terkait revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) –khususnya hotel berbintang. Sebagai Gubernur yang memiliki pergaulan dunia, Anis Baswedan pasti memiliki cukup referensi tentang sebuah bangunan kebudayan yang megah dengan suasana inspiratif. Akan hal itu, didalamnya juga pasti terisi dengan sebuah kegiatan seni yang berkelas dunia, bukan saja berkelas nasional. Oleh sebab itu imajinasi Anis akan menghadirkan suasana dialektika seni yang sesuai kebutuhan seniman dan karyanya.

Disisi lain Anis juga menegaskan soal pembangunan TIM ini kalau imajinasinya berbeda menjadi repot. Orang-orang membuat imajinasi, kemudian pemerintah Daerah yang disalahkan. Karena imajinasi yang berbeda tersebut, akhirnya ada penentangan dari para seniman terkait pembangunan hotel bintang lima dan masuknya PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai pengelola kawasan budaya dan kesenian tersebut. Padahal untuk pengelolaan bisa dibicarakan dengan duduk bersama. Sikap profesionalitas adalah cita-cita bersama dalam membangun peradaban. Disitulah artinya seni untuk menjunjung juga demokrasi. Jadi bukan saja membuat wacana lagi tentang keadilan sosial, tapi menghadirkan keadilan sosial yang selalu menjadi komitmen Anis Baswedan selama ini.

Hal diatas ingin mengatakan bahwa imajinasi Anis berbeda dengan para seniman mengenai soal TIM adalah wajar. Akan tetapi Anis merasa akan disalahkan nantinya. Apalagi Pemprov DKI Jakarta berencana menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional tapi tidak memiliki substasi kebudayaan, melainkan komersial belaka. Untuk itu pembangunan hotel dan wisma itu diperlukan sebagai satu kesatuan. Sebab para seniman dari berbagai belahan dunia tak perlu repot mencari penginapan bila berkunjung ke Taman Iamail Marzuki Jakarta.

Semoga persoalan revitalisasi Taman Ismail Marzuki segera selesai, jika kedua belah pihak bertemu dan duduk bersama. Dilain sisi revitalisasi juga tidak mungkin dihentikan. Karena niat baik Pemda DKI Jakarta juga tidak akan menghancurkan sejarah dibentuknya bangunan Taman Ismail Marzuki jauh dari esensi sejarahnya.

Perkembangan jaman memang tidak bisa dibendung lagi, sebab kita hanya bisa berkompromi terhadap perkembangangan jaman itu sendiri, tapi tidak melukai sejarah dan peradaban kebudayaan sesungguhnya. Ketika tulisan ini dibuat, saya jadi ingat potongan sajak WS. Rendra :

…Inilah sajakku,
pamflet masa darurat
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan…

Jakarta, 31 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *