Pelukan Agus Edy Santoso

Oleh : Dedi Ekadibrata

Setelah membaca tulisan kawan-kawan tentang sosok Agus Edy Santoso atau Agus Lenon, mereka semuanya dekat, awalnya berpikir bahwa aku merasa sangat dekat Agus Lenon – tapi itulah kelebihan Agus Lenon bisa masuk ke banyak/semua lingkungan pergaulan.

Awal tahun 80an, sejak Agus Lenon masih mahasiswa dan bergabung dengan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terlihat sikap kritis dalam melihat kehidupan rakyat dalam tekanan politik yang sangat represif. Sejak Agus Lenon ada di Jakarta pada tahun 1985, itulah awal aku pertemuan dengan Agus Lenon – awal dari pertemuan tersebut berlanjut sampai Agus Lenon meninggalkan kita semua.

Kami banyak terlibat dalam melakukan advokasi kasus2 kerakyatan, diskusi-diskusi politik dan isu2 lain yang menjadi pembicaraan. Agus Lenon adalah orang baik, konsisten dengan perjuangan.

Bahkan kami ikut bersama H. JC Princen, Indro Tjahyono dan kawan-kawan pada tahun 1989 mendirikan sebuah Koalisi HAM yang bernama Indonesia Front for Defending Human Right (INFIGHT), bahkan banyak cerita dalam melakukan advokasi kasus Timtim, kasus tanah di Blangguan Jawa Timur hingga Aksi Tobat Nasuha semua itu menjadikan kami sangat dekat.

Dalam kejadian politik pada masa era Orde Baru, dia selalu terlibat secara mendalam sebagai aktivis yang kritis serta sering memberikan pencerahan dan motivasi kepada mahasiswa dan aktivis tentang demokrasi dan nilai-nilai perjuangan.

Pada saat menjadi Tapol Semalam (julukan Agus Lenon untukku), begitu pihak Polda Metro Jaya mempersilahkan untuk menghubungi keluarga, Agus Lenon lah yang pertama kali aku hubungi untuk memberitahu kawan-kawan, karena peristiwa itulah menyebabkan Handphone (HP) ku di tahan untuk dilakukan pemeriksaan jejak digital. Melalui WA Agus Lenon begitu cepat menyebar, akhirnya kawan2 ProDem (Wira dan Wayan) datang ke Polda Metro Jaya untuk menjemputku. Sehingga Wira dan 8 Pengacara siap mendampingi aku untuk datang ke Polda Metro Jaya kembali untuk mengambil HP dan pemeriksaan lainnya.

Begitu mendengar sakit, pada tanggal 10 Januari 2020, saya bersama Heru Nongko dan Widodo sempatkan untuk menjenguknya di Rumah Sakit Harapan Kita, itulah pertemuan terakhir dengannya, dalam keadaan sakit masih menunjukkan keceriaan, menanyakan keadaan kawan-kawan dan kondisi politik terakhir. Pada saat pertemuan itu Agus Lenon memelukku dengan penuh keakraban seakan-akan sudah lama tidak ketemu, Pelukan itu adalah pelukan pertama dan terakhir Agus Lenon pada saat menjenguknya dan membekas dalam pikiran karena selama ini belum pernah kami berpelukan bahkan bersalam jarang kami lakukan dalam setiap bertemu, hanya saling menepuk pundak, sambil tersenyum dan menyapa apa kabar Kay, sapan khusus padaku.

Selamat Jalan Agus, Semoga Husnul Khotimah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *