Memaknai Influensa – Mensikapi Corona RRC

Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed

 

Virus Corona RRC yang saat ini sedang mewabah, situasi sosial dan penyebarannya apakah sama seperti halnya saat awal virus influensa muncul?

Entah kapan persisnya awal mula virus influensa muncul. Dalam kenyataannya virus influensa telah menyebabkan jutaan manusia di dunia meninggal.

Flue atau influensa, disebabkan oleh virus RNA dari familia Orthomyxoviridae, yang menyerang unggas dan mamalia. Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah menggigil, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum. Kemudian ditularkan melalui udara, bersin, pernafasan, dll.

Virus Influensa yang awalnya muncul tanpa rekayasa, kemudian berkembang dengan berbagai jenis dan turunannya. Dari efek dan pola pemyebarannya, diduga Virus Corona RRC berasal dari induk yang sama, yang kemudian direkayasa sedemikian rupa dari paduan virus Kelelawar dan Ular guna kepentingan tertentu.

Dari pengalaman perkembangan influensa terdahulu kita dapat menganalisa bagaimana perkembangan virus Corona RRC kedepan.

Pandemi influenza dan berbagai varian turunannya yang terjadi pada abad keduapuluh, faktanya telah menewaskan puluhan juta orang di dunia. Tiap pandemi tersebut disebabkan oleh munculnya galur baru virus pada manusia. Seringkali, galur baru ini muncul saat virus flu yang sudah ada menyebar pada manusia dari spesies binatang yang lain.

Efek dari varian virus Influensa pun akibatkan kematian dengan jumlah yang besar. Penyebarannya sama seperti flue, yakni bersin, batuk dan udara (airborne).

Seiring waktu, setelah berevolusi selama puluhan tahun, influensa telah menyebar ke seantero dunia. Induk influensa kemudian berkembang hingga melahirkan banyak jenis yang menyerang ke berbagai bagian pernafasan yang berdampak pada kerusakan jaringan organ dalam tubuh manusia.

Dalam epidemi musiman telah menimbulkan kematian 250.000 dan 500.000 orang setiap tahunnya bahkan sampai jutaan orang pada beberapa tahun pandemik. Rata-rata 41.400 orang meninggal tiap tahunnya di Amerika Serikat dari tahun 1979 – 2001 karena influenza. Pada tahun 2010 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat mengubah cara mereka melaporkan perkiraan kematian karena influenza dalam 30 tahun. Saat ini mereka melaporkan terdapat kisaran angka kematian mulai dari 3.300 sampai 49.000 kematian per tahunnya.

Angka kematian tersebut mampu ditekan setelah sebelumnya Dunia Kedokteran berhasil menemukan vaksin Anti virus influensa. Akan tetapi walau telah diciptakan vaksin anti influensa, bahwa kenyataannya kematian yang disebabkan influensa masih terjadi.

Virus influensa tidak pernah hilang di muka bumi ini, ia terus berkembang biak dan hadir semua sisi ruang kehidupan manusia. Hanya dengan cara menghindar, pola hidup sehat dan pengobatan yang tepat saat ini. Bagaimanapun kemajuan pengobatan, bahwa ancaman kematian yang disebabkan virus tetap selalu ada.

Berbagai cara dilakukan seluruh negara di dunia guna keselamatan warganya dari ancaman virus influensa. Pertengahan abad ke-19, lembaga kesehatan dunia (WHO) membuat program kesehatan dunia, salah satunya mencegah bahaya virus yang menyerang pernafasan pada bayi, balita dan orang dewasa. Vaksin Anti influence diberikan secara massal kepada semua orang yang baru lahir hingga dewasa.

Mari kita ambil hikmahnya dari keadaan sekarang dengan berkaca pada pengalaman penangan virus influensa masa lalu. Bahwa kepanikan akan muncul saat wabah virus baru muncul jangan membuat kita lupa kepada pengalaman masa lalu. Bahwa dalam kenyataannya wabah virus yang mengancam nyawa manusia secara massal tidak baru terjadi dimasa sekarang.

Pengalaman lalu harus mencari guru dalam membuat berbagai kebijakan dan penanganan Pandemi virus Corona RRC. Agar langkah yang diambil akan lebih baik dan tepat, bukan langkah populis yang memuat kepentingan kelompok.

Selain upaya pencegahan dan penanganan korban, sudah saatnya kita membentuk Lembaga Riset Biologi yang focus pada soal pencegahan virus berbahaya yang di isi oleh para ilmuwan terkait.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Membuat anti virus dan penyelamatan ekonom akan lebih efektif ketimbang membuat kebijakan populis namun sia-sia tatkala wabah virus Corona RRC melanda dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *