MAKA, BERIKANLAH KESEMPATAN KEPADA PEREMPUAN

Oleh : Swary Utami Dewi

Tulisan ini merupakan refleksi saya yang menjadi host atau fasilitator pada salah satu tematik di Festival PESONA (Perhutanan Sosial Nusantara) November 2019 lalu. Pesona sendiri adalah ajang dua tahunan bagi pelaku, penggiat, pendamping, pemerhati dan semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan Perhutanan Sosial (PS) Indonesia. Ajang kali ini digelar pada 27 dan 28 November 2019 di Manggala Wana Bakti, Jakarta. Salah satu talk show yang ada ada kali ini adalah tentang “Peran Kelompok Perempuan dalam PS menuju Ketahanan Pangan”, yang digelar pada 27 November 2019.

Di sini, tampil lima petani perempuan yang menjadi motor penggerak di desa/kampungnya masing-masing. Mereka adalah Purwani dari Bengkulu, Sumini dari Aceh, Hemirok dari Sumatra Barat, Wartini dari Sulawesi Tengah dan Suin dari Kalimantan Timur. Mereka memaparkan apa yang sudah mereka lakukan di komunitasnya, dari hal hal yang sangat sederhana. Suin dan para perempuan lain dari Kelompok Tani Wanita Bunga Salak, Hutan Kemasyarakatan Sungai Wain, Kalimantan Timur, misalnya melakukan berbagai inovasi dari buah salak yang banyak tumbuh di sekitarnya. Mereka berhasil menjadikan salak sebagai komoditas layak jual dalam berbagai varian, misalnya asinan salak, cake salak dan kripik salak. Hemirok dan kawan-kawannya yang menjadi bagian dari Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Alahan Mati. Pasaman Barat, Sumatra Barat, berhasil menggaet pasar internasional untuk pakisnya.

Belajar dari pengalaman dan inovasi dari para perempuan hebat di atas, ada beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, saat pengelolaan PS dilakukan kelompok perempuan, telah terjadi penguatan ekonomi berbasis komunitas, dari produk-produk sekitar, yang bisa jadi semula hanya dipandang sebelah mata, seperti pakis, kecombrang dan salak, menjadi layak jual. Perempuan tidak hanya memampukan dirinya sendiri, tapi juga ekonomi komunitasnya.

Kedua, dalam kondisi apapun, perempuan selalu punya tekad harus bisa maju. Ini juga yang terjadi dan dialami oleh para perempuan hebat di atas. Sumini dari Aceh menggambarkan, bagaimana ia dan teman-temannya, yang semula tidak mendapat dukungan dari komunitas, perlahan membuktikan apa yang dilakukan dengan menanami dan merawat hutan tidak hanya untuk menyelamatkan komunitas dari ancaman banjir bandang di masa mendatang, tapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dari produk kopi yang dihasilkan. Kelompoknya yang semula dipandang sebagai kelompok perempuan biasa, kini mendapat dukungan penuh dari komunitas. Sumini menjelaskan bahwa kemajuan perempuan di desanya ternyata bisa membawa dukungan penuh dari para suami (laki-laki). Para lelaki yang semula tidak peduli, sekarang menjadi tertarik dan mulai mau mengurus hutannya.

Perempuan memiliki pendekatan berbeda dalam menggerakkan roda kegiatan PS. Hemirok dari Sumatra Barat mengajarkan bahwa pendekatan kekeluargaan yang dilakukan kelompoknya membuat produk mereka lebih mudah diterima pasar. Caranya adalah saat ada yang datang berkunjung diberikanlah oleh oleh olahan pakis sebagai buah tangan. Pendekatan buah tangan ini mampu menjadikan olahan pakis mereka berhasil sampai ke Malaysia tanpa melakukan promosi besar-besaran.

Hal serupa juga dilakukan oleh Sumini di Aceh. Ia dan kawan-kawan mula-mula dipandang sebelah mata oleh para lelaki di kampungnya. Tapi saat melihat apa yang mereka lakukan bermanfaat, bahkan komunitas mereka sekarang mendukung penuh apa yang dilakukan oleh Sumini. Sumini tidak melakukannya dengan himbauan kata-kata, tapi dengan menunjukkan hasil kerja bersama.

Hal menarik lainnya adalah kenampuan perempuan melihat hutan dari berbagai sisi manfaat. Ini layaknya kemampuan melihat PS sebagai prisma yang memiliki banyak sisi menarik, bukan sesuatu yang tunggal atau linier semata. Salah seorang penanggap, Barid Hardijanto menjelaskan bahwa ketika laki-laki berbicara hutan, mereka hanya berbicara soal kayu. Namun ketika perempuan berbicara soal hutan, maka hutan menjadi sangat berwarna, sama sekali bukan kayu belaka. Dan ini benar adanya. Maka hutan bisa menjadi sumber ketahanan pangan, seperti yang diceritakan Wartini dari Donggala, Sulawesi Tengah. Hutan bisa merupakan sumber peningkatan ekonomi, seperti yang dinarasikan Purwani, Hemirok dan Suin. Hutan bisa juga bermakna kelestarian ekologis, seperti yang dituturkan Sumini. Jadi hutan bagi perempuan ada banyak makna, bukan tunggal.

Terakhir, perempuan memiliki kemampuan melakukan banyak hal sekaligus tanpa saling mengabaikan. Saat diberikan kesempatan mengelola kawasan hutan, semua narasumber menjelaskan mula-mula memang ada semacam pertanyaan kepada mereka, apakah nanti keluarga akan terlantar, apakah nanti mereka akan berubah dan sebagainya. Namun, waktu membuktikan sebaliknya. Ternyata para perempuan penggerak PS ini bukan hanya mampu memberikan pendapatan bagi keluarga, tapi juga mampu mendapatkan dukungan dari komunitas. Ada penegasan menarik dari Sumini: “Saat diberi kesempatan dan tanggung jawab, perempuan sanggup melakukan beberapa hal sekaligus tanpa saling mengabaikan, yakni mengurus suami, anak dan hutan. Maka berikan kami kepercayaan tersebut.”

Mengakhiri catatan ini, perlu kiranya ke depan, Kementerian LHK melakukan tindakan afirmatif dengan mewajibkan perlunya pelibatan aktif kelompok-kelompok perempuan dalam pengelolaan PS di Indonesia.
Kiblat pengelolaan hutan ke depannya haruslah afirmatif dan diarahkan pada perempuan. Semoga.

28 November 2019

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *