*Maju Kotanya – Bahagia Warganya Adalah Janji – Janji Adalah Hutang*

Oleh : Agusto Sulistio (Pegiat Sosmed, ProDem, eks aktivis PIJAR)

Berjanji itu pasti akan dilakukan oleh siapa pun. Tak terkecuali keadaannya orang tersebut.

Pujian, hormat dan pengakuan akan muncul ketika janji itu terwujud dari orang yang menerima janji itu.

Lalu bagaimana jika banyak janji? Tentu konswensinya, janjinya itu harus dipenuhi semua, terserah caranya, dicicil pun boleh asal sesuai kesepakatan. Hati – hati banyak janji bisa akibatkan keblinger, dan di bully orang. Itu konsekwensi sosialnya.

Keblinger biasanya akibat orang yang terlalu berlebih. Berlebihan janji, berlebihan ilmu, berlebihan mikir, dll. Benar kata bijak orang Jepang, agar kamu bisa menjadi Ahli dan bermanfaat, maka focus dengan satu bidang pekerjaan.

Maju Kotanya – Bahagia Warganya adalah janji. Janji yang diberikan kepada seluruh warga Ibukota DKI Jakarta.

Janji tersebut dikeluarkan oleh Anies Rasyid Baswedan, PhD, yang telah terpilih mayoritas pemilih DKI pada Pilkada tahun lalu sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Janji tersebut menarik dan menyentuh semua harapan orang. Janji yang kini ditunggu semua golongan, etnis, agama, suku yang ada di Ibukota.

Membuktikan janji bukan soal konsisten, waktu, hambatan, dll semata. Sebab terlalu banyak janji pasti berat ditunaikan. Dan tidak mustahil akan lalai atau tak mampu wujudkan.

Manusia punya keterbatasan dan rejeki, jodoh, ajal Allah SWT yang menentukan.

Tak ada pilihan selain mewujudkan janji. Janji adalah hutang. Bagi Umat Islam, Janji Wajib di Tunaikan, sebab janji yang akan membawa kita menuju Surga.

Berikan janji sesuai kapasitas dan kemampuan. Jangan produksi janji karena ambisi dunia. Demikian kutipan bijak dari banyak Kitab Suci dan Para Alim Ulama.

*Fakta Janji Urai Kemacetan*

Saya ambil satu contoh janji yang diproduksi Anies Baswedan soal mengurai kemacetan lalu lintas DKI Jakarta.

Tidak mudah mengurai kemacetan Ibu Kota, faktornya terlalu banyak, saling mengait banyak kelompok dan terjadi sejak lama.

Disini saya akan mengukur secara logis bagaimana upaya Anies mengurai kemacetan. Berikut beberapa fakta yang ada

1. Pembangunan infrastruktur (di pusat keramaian Ibu kota) : trotoar, talut & fasum.

2. Peraturan Gubernur.
Peraturan yang terkait tata kota, perijinan usaha, IMB dan turunannya yang bermuara pada :
A. Kesehatan, Kesejahteraan, Ketertiban, Ketahanan & Keamanan Warga.

B. Pendapat warga & daerah

C. Penurunan jumlah pengendara dan kesadaran masyarakat akan transportasi umum & penggunaan trotoar.

D. Peraturan persyaratan kredit kendaraan Roda 2 / 4 bagi warga.

E. Lahan parkir.

3. Peraturan Lalu Lintas. Penerapan aturan yang efektif dan menunjang program Pemprov DKI Jakarta.

4. Persyaratan kredit kendaraan roda 2 & 4.

5. Membangun budaya masyarakat modern gunakan trotoar dan transportasi umum.

6. Anggara Biaya.

Dari salah satu contoh fakta yang ada diatas yang sedang di otak-atik, di bolak-balik oleh Anies belum terwujud, butuh waktu yang cukup. Mustahil bisa selesai dalam 5 tahun. Sementara masa jabatannya sudah masuk di tahun ke 3, menyisakan 2 tahun untuk wujudkan janjinya.

Maka diperlukan upaya Anies dan tiemnya agar Anies bisa terpilih kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta Periode 2, guna buktikan janji – janjinya.

Menunaikan Janji lebih mulia ketimbang mengikuti ambisi. Berbuat baik tidak ditentukan dimana posisi kita berada.

Allah SWT Maha Segalanya.

Kalibata, 4 Februari 2020 : 12.35 WIB.

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *