Oleh : Agusto Sulistio

Berikut adalah kelebihan yang dimiliki Almarhum Didi Kempot sebagai seniman pelantun lagu Pop Jawa, Keroncong Campursari yang jarang dimiliki oleh kebanyakan penyanyi lainnya, baik yang bergenre campursari, pop, rock, jazz hingga yang aliran musik paling modern.

Semua lagu yang dibawakan Didi Kempot merupakan karya ciptaannya sendiri. Lirik, nada dan lainnya yang terkait dengan awal proses dia buat sendiri. Dari informasi berbagai sumber terpercaya, Didi Kempot sejak awal karirnya di awal tahun 1980an – 2020 sudah ciptakan lebih dari 700 – 800 lagu Pop Jawa, Nasional dengan alunan irama Keroncong Campursari

Karya lagunya dikenal banyak kalangan, khusunya menengah kebawah. Tak sedikit masyarakat lintas suku budaya hafal lirik lagu-lagunya termasuk yang berbahasa Jawa.

Hal ini jarang dimiliki oleh kebanyakan penyanyi. Pencipta lagu sekaligus penyanyinya.

Band dunia sekelas The Beatles dan The Rolling Stones saja karya lagu ciptaannya dibuat bersama-sama rekannya yang ada di dalam group bandnya.

Didi Kempot memulai kariernya dengan mengamen. Salurkan bakat sambil  mencari nafkah di jalanan dan trotoar Stasiun Balapan di  dan Kota Solo Jawa Tengah dan sekitarnya.

Saat bekerja mengamen bersama kawan – kawannya ia bawakan lagunya sendiri, sesekali membawakan karya artis populer Jawa saat itu, seperti Manthos, dll.

Karena kerap lagunya dia lantunkan setiap hari, lambat laun lagunya dikenal dan dihafal masyarakat.

Didi Kempot dan lagunya seiring waktu semakin banyak dikenal orang dan menjadi buah bibir masyarakat dari mulut ke mulut, maklum jaman itu belum ada tekhnologi sosmed seperti saat ini.

Kemudian Didi Kempot merantau ke Jakarta. Mengadu nasib dan mencari nafkah dari mengamen di sekitar Slipi Jakarta Barat. Sampai akhirnya Didi Kempot masuk ke dapur rekaman. Karya lagu yang biasa ia bawakan saat mengamen sukses. Lagu keroncong campursari Stasiun Balapan Solo laris di pasaran musik Indonesia dan bersaing dengan warna musik modern lainnya saat itu.

Sehingga saat itu warna musik keroncong campursari mewabah, diterima masyarakat luas tak hanya oleh masyarakat Jawa saja. Kesuksesan campursari, tak saja dinikmati oleh Didi Kempot seorang, saat itu penyanyi campursari lokal lainnya pun ikut merasakan derasnya order manggung. Tak heran kemudian banyak penyanyi yang terjun mendadak sebagai penyanyi keroncong campursari atau lagu lama dirubah dengan irama keroncong campursari.

Setelah itu, Didi Kempot kembangkan kariernya ke Negara Suriname. Disini pun ia meraih sukses. Karya lagunya yang berjudul Stasiun Balapan Solo pun meledak di Suriname, alhasil Pemimpin Negara Suriname memberikan penghargaan seni kepadanya.

Kelebihan lainnya, lagu – lagu Didi Kempot awalnya yang hanya diminati kelompok masyarakat jawa menengah ke bawah, kemudian merambah ke kalangan atas lintas suku budaya.

Lagu ciptaan Didi, mudah dikenal dan dihafal pendengarnya. Hampir setiap stasiun radio dan TV saat itu banyak yang memutar karya lagu-lagunya yang unik.

Alhasil dirinya dan lagu – lagunya kerap diundang untuk mengisi acara sunatan, kawinan, hajatan dari panggung ke panggung ke acara resmi di lingkungan pejabat perintah, TNI-POLRI baik di daerah dan pusat.

Walau penampilan Mas Didi Kempot sebagai penyanyi terkesan “ndeso” namun kenyataannya di era musik K-Pop milenial tahun 2019 – 2020 lagunya yang bernuansa Jawa, keroncong campursari dan jadul, atau bisa dibilang “nggak gaul” tak disangka Mas Didi dan lagu-lagunya beken dan digandrungi kaum remaja milenial masa kini. Terbukti di tiap konsernya sukses sukses dan dipenuhi anak-anak milenial. Begitu juga di sosmed, lagunya viral.

Dalam perjalannya para fans milenial ya menjuluki Mas Didi Kempot sebagai The God Father of Broken Heart. Hal itu karena lirik lagunya yang banyak ceritakan soal cinta, patah hati dan kehidupan sosial masyarakat bawah.

Kelompok milenial tersebut bergerak dengan pikiran dan jamannya, sehingga akhirnya Didi Kempot viral di era milenium, seolah bangkit kembali dan mengulang masa kejayaannya awal kariernya di tahun 80/90-an.

Kenyataan tersebut sesuatu yang tak bisa dianggap remeh dan mudah. Tak banyak musisi bisa lakukan seperti Didi Kempot. Ini menarik untuk ditelisik lebih dalam dimana musik jadul (keroncong campursari) dapat diterima anak sekarang. Padahal belum tentu mereka sudah lahir saat lagu-lagu Didi jaman itu membahana.

Kenyataan ini tak bisa ditutupi, lewat Mas Didi Kempot anak – anak jaman sekarang gandrung dengan lagu campursarinya ditengah banjirnya industri musik elektronik modern dan K-Pop yang mendunia dikalangan anak muda.

Tanpa disadari Didi Kempot dengan musik khasnya telah menggeser industri musik modern dunia yang mewabah di Indonesia.

Kelebihan lainnya Mas Didi, demi kariernya ia tak khawatir dengan penpilannya. Penampilannya sederhana dan kedepankan nilai budaya, dari sini ia memiliki karakter yang kuat sebagai penyanyi Indonesia yang berbudaya. Ia tak merubah ciri khas aslinya sebagai penyanyi keroncong campursari yang kental dengan nuansa jawa dan segala identitasnya di dalam persaingan industri musik modern.

Belakangan konsernya selalu dipenuhi oleh anak-anak milenial yang identik modis, rapih, wangi, cantik dan ganteng. Pandangan ini kontras dengan tuduhan warna musiknya “ndeso”.

Kelebihan selanjutnya adalah, Mas Didi Kempot dalam setiap show-nya kerap berbusana yang menonjolkan sisi tradisional Jawa, termasuk pemain musik pengiringnya. Baju batik, pakaian adat jawa, belangkon, gambar wayang dll menjadi ciri khasnya. Hal ini sangat positif dalam menjaga dan melestarikan Budaya Bangsa yang merupakan salah satu program Pemerintah.

Mas Didi selain mencintai dan menjunjung budaya asalnya, dalam setiap kesempatan konsernya ia selalu mengajak dan perkenalkan budaya Indonesia. Tak jarang ia ajak penonton untuk bersama bernyanyi sambil melontarkan istilah keseharian yang ada ditengah masyarakat, seperti misal “cendol dawet” (jajanan khas tradisional Jawa).

Pemain musik yang iringi Almarhum Didi Kempot mayoritas gunakan alat tradisional yang ada dalam musik keroncong yang dikolaborasi dengan alat musik modern, paduan inie jadi campursari.

Menurut sahabat dekatnya (sumber Kompas TV) Almarhum Didi Kempot adalah sosok yang dikenal ramah, baik, supel, solider, dermawan dan merakyat. Salah satu contoh adalah karya lagunya dipinjam oleh penyanyi lain, selama yang bersangkutan izin pada penciptanya (Didi Kempot) ia tak keberatan, dan untuk ini Mas Didi tidak pasang tarif. Dengan meminta izin pakai karya lagunya saja ia sudah senang.

Sebelum wafat, pada tanggal 10/11 April 2020, almarhum bekerjasama dengan salah satu stasiun TV Swasta gelar acara “Bernyayi di rumah bersama Didi Kempot” yang bertujuan menggalang dana untuk masyarakat yang terdampak Covid 19. Ia bernyanyi dari dalam rumah yang disiarkan langsung kepada para penonton dirumah melalui saluran televisi dan media sosmed.

Didi Kempot menyanyikan lagu-lagu hitsnya dalam waktu 3 jam guna menggalang dana kemanusiaan. Dari semua rangkaian acara total terkumpul dana bantuan sebesar Rp. 7,6 Milyar. Dana tersebut diserahkan Mas Didi Kempot dengan ikhlas kepada organisasi sosial & agama, untuk kemudian disalurkan kepada warga yang terkena dampak Corona.

Masih ada beberapa rangkaian jadwal acara amal Mas Didi yang sudah siap digelar. Termasuk konser akbarnya di GELORA Bung Karno pada Juli 2020 mendatang, kemudian diundur pada bulan November 2020, akibat situasi wabah.

Namun apa dikata, manusia bisa merencanakan namun Tuhan Pencipta Alam Semesta yang menentukan. Secara mendadak Mas Didi Kempot (54) harus menghadap Sang Pencipta pada Selasa pagi, 07.45 Wib, 5 Mei 2020 di RS. Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah. Dokter yang bertugas di bagian UGD telah lakukan upaya beberapa saat atas kondisi yang Mas Didi yang tiba diantar keluarga dekatnya tak sadarkan diri. Namun para medis tak mampu menahan kuasa Yang Maha Besar. Innalillahi Wainnailaihi Rajiuun, Didi Prasetyo (Didi Kempot) lewat pemeriksaan medis dinyata wafat.

Almarhum dimakamkan di kampung halamannya, Ngawi, Jawa Timur, bersebelahan dengan makam Putra Sulungnya.

Selamat jalan Mas Didi Kempot, Maestro Campursari, The God Father of Broken Heart. Karyamu akan selalu kami kenang dan akan mengisi keseharian para penggemar dan masyarakat umumnya baik dalam senang dan duka.

 

Email penulis : agustodata@gmail.com

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *