Apakah Virus RRC-CORONA & LockDown Bisa Berakibat Rezim Mundur?

Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed.

Jika rezim lengser, diduga konflik horizontal akan terjadi. Hal tidak saja disebabkan oleh psikologis massa akibat beragam akumulasi persoalan panjang, ditengah suasana ketakutan akan virus RRC, mahal dan langkanya berbagai bahan kebutuhan rakyat, serta daya beli masyarakat yang kian melemah.

Dalam situasi ini dimana reputasi pemerintah kian menurun dimata publik, tentu disatu sisi akan merangsang penguasa lakukan berbagai hal kebijakan terkait krisis multi dimensi dan wabah Corona yang semakin memperburuk keadaan.

Rekonsiliasi tentu akan menjadi faktor penting jika keadaan semakin memburuk. Disamping penanganan stabilitas keamanan kesehatan, ekonomi dan sosial politik.

Melewati keadaan itu, pertimbangan kerjasama politik dengan negara sahabat yang lebih mengkerucut merupakan agenda yang tak bisa dilewatkan terkait situasi dalam negeri, guna antisipasi stabilitas dalam negeri memburuk.

Disisi lain kemampuan TNI / Polri akan dihadapkan pilihan loyalitas kepada kekuasaan, konstitusi dan rakyat. Dari sejarah sebelumnya tentu TNI/Polri akan melihat perkembangan real dilapangan. Jadi kekuatan massa yang inginkan perubahan sangat menentukan. Tinggal bagaimana kelompok menengah elit dapat diterima dan didukung Rakyat. Sebagai catatan rakyat telah melewati jalan panjang dalam menentukan nasibnya, dan dari sana didapat berbagai pengalaman rakyat soal kekuasaan dan keberpihakan.

Kelompok perubahan, baik yang datangnya dari kekuasaan maupun diluar kekuasaan akan melakukan berbagai upaya guna mencapai terwujudnya perubahan kekuasaan, dll.

Kelompok perubahan yang terdiri dari banyak kelompok, yang memiliki kesamaan tujuan disamping perbedaan akan melalui dengan caranya sendiri-sendiri. Dari pengalaman masa lalu pergeseran akan terjadi ketika telah atau akan mencapai tujuan. Guna antisipasi terjadinya polarisasi gerakan, maka perlu dipersiapkan sejak awal, agar tidak mengaburkan tujuan, dan pengulangan reformasi 98.

Disisi lain Indonesia saat ini tidak memiliki tokoh pemersatu bangsa yang dapat diterima oleh semua kalangan, sangat perlu diperhatikan. Gagasan, konsep serta dukungan dalam – luar negeri yang kuat dan saling menghormati perlu diwujudkan.

Kata kuncinya adalah *perubahan harus terwujud, bukan sekedar perubahan kekuasaan* melainkan bagaimana bisa perubahan itu mampu mengatasi keadaan multi dimensi segera berakhir, dan proses bernegara kembali berjalan normal.

Rakyat akan kecewa jika rezim berganti, namun penguasa baru tak mampu merubah keadaan. Psikologis sosial ini logis terjadi, mengingat rakyat kerap menjadi alat perjuangan dan legitimasi semata.

Keadaan politik hari inu tak jauh berbeda dengan keadaan reformasi 98. Bedanya, era sekarang muncul virus RRC yang mematikan, dibarengi tak adanya intervensi asing yang dominan menolak kebijakan pemerintahan Jokowi.

Dengan adanya wabah virus Corona RRC saat ini, tentu akan sangat memungkinkan rezim terdesak mundur. Dengan syarat jika wabah Corona tak bisa teratasi, disokong terjadinya desakan massa besar kepada rezim, kemudian terjadi kelangkaan bahan pangan, BBM, nilai tukar rupiah anjlok, dukungan luar negeri.

*Apakah variabel strategis tersebut telah didapat?*

Perlu di ingat wabah Corona ini tak saja menyerang RRC, Indonesia namun menyerang kepada negara-negara besar yang memiliki potensi dapat mensupport dalam negeri menuju terjadinya perubahan. Pertanyaannya, apakah negara yang dimaksud, yang kini sedang hadapi persoalan virus RRC di dalam negerinya mau mendukung terjadinya perubahan didalam negeri dalam waktu dekat?

Kemudian sejauh mana investasi asing di Indonesia, apakah diuntungkan atau tidak, jika perubahan besar terjadi di Indonesia?

Kemudian seberapa besar dan kuat dukungan massa dalam negeri menekan rezim akibat akumulasi persoalan yang tak kunjung berakhir.

Saat ini rakyat hidupnya ibarat sudah jatuh kemudian tertimpa tangga. Rakyat kini menghadapi persoalan yang sangat sulit sepanjang perjalanan bangsa setelah peritiwa 65 dan krisis 98. Krisis saat ini tak saja multi dimensi, melainkan ketakutan dan ancaman virus mematikan RRC Corona. Situasi ini jauh lebih berat.

Mungkinkah kekuatan rakyat akan bergerak turun kejalan mendesak rezim, bersama berbagai kelompok menengah elit, ditengah mewabahnya virus RRC yang mematikan? Beberapa hari lalu Gubernur DKI, Anies Baswedan telah instruksikan Lockdown kepada semua warga Jakarta.

Disatu sisi perubahan butuh dukungan kekuatan massa, disisi lain masyarakat dianjurkan didalam rumah dan menghindari kerumunan massa yang berpotensi virus RRC.

_Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 19/3/2020 – 16.20 Wib._

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *